Di sebuah sekolah negeri yang luas, terdapat sudut kecil yang penuh warna dan harapan. Tempat itu bernama Pojok Seni. Meski letaknya di pojok lorong, maknanya justru berada di tengah semangat para siswa.
Pojok Seni diciptakan sebagai ruang bebas berekspresi. Siapa pun boleh menempelkan karya: gambar, puisi, kerajinan, atau tulisan motivasi. Tidak ada karya yang dianggap lebih baik dari yang lain. Semua dihargai, karena setiap karya adalah hasil usaha dan keberanian.
Setiap hari, siswa yang melewati Pojok Seni selalu berhenti sejenak. Mereka membaca kata-kata penyemangat, melihat lukisan penuh warna, dan merasakan semangat baru untuk belajar. Tanpa disadari, sudut kecil itu mengajarkan satu hal penting: setiap siswa memiliki potensi.
Bagi siswa yang sempat merasa kurang percaya diri, Pojok Seni menjadi tempat untuk bangkit. Dari sana mereka belajar berani mencoba, berani salah, dan berani berkembang. Guru-guru pun menjadikan Pojok Seni sebagai pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang menumbuhkan karakter dan kreativitas.
Pojok Seni membuktikan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar di kelas, melainkan ruang untuk tumbuh dan menemukan jati diri. Dari sudut kecil itulah, semangat besar lahir dan mimpi-mimpi mulai berani digantungkan setinggi langit.
